Bismillahirrohmanirrohim,
Assalamualaikum wr. Wb
Saya Agustiana, seorang Mahasiswa Manajemen semester 7 di STIE Insan Pembangunan Bitung dan juga seorang Karyawan di PT. Baiksan Indonesia, saya berasal dari Rangkasbitung dan sekarang tinggal di Kontrakan di Kadu, Bitung Tangerang.
Pendakian Gunung Papandayan merupakan petualangan gunung
yang ke-3 setelah Gunung Pulosari dan Gunung Tangkuban Perahu, saya bukanlah
anak gunung tapi saya hanya anak Ibu alias pecinta petualang dan penikmat alam.
Apa yang telah Tuhan ciptakan haruslah kita syukuri, nikmati dan pelihara. Saya
percaya hidup ini tentang petualangan dan Fun.
Saya merasa senang bisa diajak mendaki bersama GAT (Georn Adventure Team) ke Gunung Papandayan. Sebelum hari H nya yaitu hari Jumat 20 Maret 2015 saya sudah tidak sabar ingin buru-buru kesana, melihat dan menikmati pendakian Papandayan. Saya sama sekali tidak tahu tentang Gunung Papandayan itu seperti apa dan bagaimana, saya juga tidak searching tentang Papandayan. Tapi setelah pendakian saya jadi tahu tentang Gunung Papandayan. Itu adalah hal yang hebat bagi saya. Papandayan berbeda dari gunung yang saya daki sebelumnya. Banyak juga pengalaman yang saya dapati. Arti dari kebersamaan, keceriaan, candaan, ketakjuban dan juga kerja sama dalam sebuah Team. Saya merasa seperti kecanduan mendaki gunung setelah pendakian pertama saya ke Pulo sari, disitu saya tidak mau berhenti berpetualang mendaki gunung, saya juga berkeinginan mendaki Gunung-gunung yang ada di Indonesia umumnya, secara khususnya Gunung-gunung yang berada di Pulau Jawa bisa saya daki. Mimpi itu jangan setengah setengah, betul nggak GAT?
Pada hari H nya itu, hati saya merasa bahagia akhirnya hari
yang ditunggu-tunggu telah tiba. Perjalanan pada waktu itu dimulai dari Toko
Outdoor Georn di Cikupa sebagai base keberangkatan. Saya tiba disana Jam 19.30,
lewat setengah jam dari Jadwal untuk berkumpul disitu saya mulai memberi salam
kepada semua yang sudah berkumpul dan saya membuka obrolan-obrolan kecil supaya
saya tidak merasa canggung dan sendirian. Karena orang yang saya kenal disitu
hanya beberapa saja, Sambil menunggu kedatangan mobilnya panitia membagikan
Kaos kepada para peserta.
Jadwal keberangkatannya jam 21.00, tapi ternyata molor 1 jam
setengah yaitu tepatnya pada jam 10.30 mobil yang akan membawa kami ke Garut
tiba, katanya ada hambatan ketika di perjalanan menuju ke Cikupa karena
mobilnya dari Jakarta, cukup jauh juga. Pada waktu itu saya sudah tahu kalau
yang akan membawa kita ke Garut adalah mobil Truck tentara karena saya sudah dikasih
info sebelumnya oleh Mas Mansyur, jadi saya nggak kaget. Walaupun bukan Bus
tapi saya tetep hepi, karena bukan mobil apa yang akan membawa saya ke Garut
tapi Pendakiannya yang akan menjadi pengalaman yang indah untuk hari tua nanti
yang akan menjadi cerita untuk anak cucu saya.
Tepat jam 11.00 mobil berangkat menuju Garut melalau jalan
tol dimulai masuk gerbang Tol Cikupa. Di perjalanan keberangkatan saya cukup BT
karena macet yang begitu panjang di daerah Kebon Jeruk Jakarta,, katanya jalan
bebas hambatan tapi kok kaya Jalan di Pasar Cikupa yang selalu macet ya.
Mungkin hamper 2 jam tejebak macet disitu. Setelah lepas dari kemacetan
ternyata itu diakibatkan oleh Truck yang membawa beras terguling dan
menghalangi separuh jalan TOL dan beras pun berhamburan ke jalan. Dari situ
perjalanan mulai lancer, mobil pun melaju dengan kencangnya sehingga lubang pun
di embat terus oleh sopir Pak Purboyo namanya. Orang-orang di dalam mobil pun
ancul-anculan dan adapun yang teriak juga sambil menggerutu membicarakan Pak
Sopir.
Dalam perjalanan saya merasa ngantuk dan harus memejamkan
mata supaya ketika mendaki tidak lelah. Saya pun memejamkan mata tapi itu juga
hanya tidur ayam. Tak terasa lamanya perjalanan kami sudah keluar dari TOL dan
mobil pun berhenti di sebuah pom bensin yang sudah masuk daerah Garut untuk
rehat sejenak meluruskan badan dan meminum segelas kopi di Warkop. Pada waktu
itu jam 04.30 sampai disitu. Tak lama adzan subuh berkumandang dan kami pun
bergegas untuk menunaikan sholat di mushola yang ada di Pom bensin itu. Setalah
semuanya selesai saya bergegas kembali naik mobil untuk melanjutkan perjalanan,
pada jam enam kurang, saya lupa tepatnya jam berapa kami berangkat kembali
menuju tempat tujuan.
Kami tiba di sebuah rumah makan untuk sarapan terlebih
dahulu, sambil menyantap sarapan saya berbincang bincang tentang perjalanan
tadi malam. Dan saya menelepon ibu dan cemceman saya untuk memberi kabar bahwa
saya sudah sampai di Garut untuk mendaki Gunung Papandayan. Setelah selesai
sarapan kami melanjutakan perjalanan kembali kaki gunung Papandayan. Mobil pun
jalan perlahan karena jalanan di Garut sekitar Gunung lumayan ramai. Tiba-tiba
kami di hentikan oleh penduduk sekitar untuk tidak masuk membawa mobil tronton
dari luar. Kampi pun terpaksa berhenti di sebuah perkampungan di kaki gunung
Papandayan sebelah Mesjid yang di depannya terdapat sebuah lapanan sepak bola.
Kami pun turun dari mobil untuk pindah ke mobil losbak yang akan mengantar kami
ke Pos 1. Disitu kami merasa heran karena kami dipntain dana lagi untuk ongkos
ke atas sana. Ini Diluar dugaan Panitia juga, karena tidak mengira akan begini
jadinya.
Panitia pun meminta maaf kepada para peserta pendakian dalam hal yang tidak diduga ini karena harus mengeluarkan biaya lagi sebesar Rp 40.000/orang PP. Semuanya mengeluarkan uang masing-masing untuk dikumpulkan kepada ketua kelompok masing-masing. Sebelum berangkat lagi kami melakukan briving dan berdoa dulu untuk keselamatan dan kesuksesan pendakian. Panitia mulai sibuk mengurus logistic apa saja yang kurang. Karena para peserta ditawarin kalau ada yang mau belanja untuk makan di atas di bicarakan pada waktu itu karena panitia yang akan pergi belanja.
Sesudah semua selesai kami siap-siap kembali menaiki mobil bak terbuka. Mobil pun berjalan, sssrrrr… angin terasa sejuk menghembus mata dan badan hawa gunung Papandayan sudah tercium. Di atas mobil itu ada sekiranya 18 orang, disitu ada 1 orang yang koplak sangat, dia adalah Dede. Kami bercanda tawa dengan kekocakan dia, dengan narsis dia merasa seperti Agnes Mo. Hahaha….
Panitia pun meminta maaf kepada para peserta pendakian dalam hal yang tidak diduga ini karena harus mengeluarkan biaya lagi sebesar Rp 40.000/orang PP. Semuanya mengeluarkan uang masing-masing untuk dikumpulkan kepada ketua kelompok masing-masing. Sebelum berangkat lagi kami melakukan briving dan berdoa dulu untuk keselamatan dan kesuksesan pendakian. Panitia mulai sibuk mengurus logistic apa saja yang kurang. Karena para peserta ditawarin kalau ada yang mau belanja untuk makan di atas di bicarakan pada waktu itu karena panitia yang akan pergi belanja.
Sesudah semua selesai kami siap-siap kembali menaiki mobil bak terbuka. Mobil pun berjalan, sssrrrr… angin terasa sejuk menghembus mata dan badan hawa gunung Papandayan sudah tercium. Di atas mobil itu ada sekiranya 18 orang, disitu ada 1 orang yang koplak sangat, dia adalah Dede. Kami bercanda tawa dengan kekocakan dia, dengan narsis dia merasa seperti Agnes Mo. Hahaha….
Mobil bisa naik ke Gunung Papandayan karena sudah tersedia
jalan yang beraspal. Perjalan ke Pos 1 kurang lebih 30 menit, kami pun tiba
disana dan turun dari mobil terus kami berkumpul kembali untuk briving lagi.
Tak lama setelah itu saya mulai menyatu dengan kelompok masing-masing, kelompok
saya beranggota 6 orang. Laki-laki ada 4 orang dan wanita 2 orang, Ketua
kelompok saya yaitu Erna wati. kami pun memulai pendakian.
Saya merasa takjub dan kagum pada Yang Maha Kuasa karena melihat keindahan ciptaanNya. Saya menikmati aroma gunung dan pemandangannya, sesekali kami istirahat untuk sekedar Foto-foto mengabadikan pendakian di Gunung Papandayan. Lagi-lagi saya terkagum mengucapkan subhanallah melihat Kawah Mas yang begitu indah. Ciptaan Allah memang tidak ada yang kurang. Disitu saya merasa bersyukur kepadaNya bisa sampai disana dengan selamat dan saya juga sangat berterima kasih kepada GAT sudah mengajak saya ikut bergabung untuk nanjak ceria bersama GAT. Dengan slogannya GAT yaitu Get Fun with GAT. Saya merasa sangat Fun sekali. 2 Jam pendakian kami istirahat di sebuah tanah lapang yang terdapat mata air untuk melaksanakan panggilan Sholat Dzuhur. Pada waktu itu jam 12.30 kami sholat berjamaah disana dengan ruang hijau terbuka di Gunung. Setelah selesai kami melanjutkan kembali perjalanan ke Pondok salada yaitu lapangan untuk berkemaha.
Setibanya disana semua orang mulai sibuk mendirikan tenda. Saya sisitu bengong sendiri karena hanya melihat orang-orang yang sedang sibuk. Tapi dalam pikiran saya terbesut sesuatu yang mengatakan, “kamu mau apa pergi ke gunung dengan orang banyak seperti ini, dan kamu hanya diam saja, sementara orang lain sedang sibuk?” Disitu saya langsung bergegas membantu teman-teman untuk mendirikan tenda. Setelah tenda sudah berdiri tegak, ada satu tenda yang belum pernah saya lihat yaitu tenda keong yang berwarna kuning. Orang-orang sangat sibuk dan tidak tahu cara mendirikan tenda keong itu. Saya pun ikut membantunya, butuh waktu lama untuk mendirikan tenda tersebut. Tenda yang aneh….
Saya merasa takjub dan kagum pada Yang Maha Kuasa karena melihat keindahan ciptaanNya. Saya menikmati aroma gunung dan pemandangannya, sesekali kami istirahat untuk sekedar Foto-foto mengabadikan pendakian di Gunung Papandayan. Lagi-lagi saya terkagum mengucapkan subhanallah melihat Kawah Mas yang begitu indah. Ciptaan Allah memang tidak ada yang kurang. Disitu saya merasa bersyukur kepadaNya bisa sampai disana dengan selamat dan saya juga sangat berterima kasih kepada GAT sudah mengajak saya ikut bergabung untuk nanjak ceria bersama GAT. Dengan slogannya GAT yaitu Get Fun with GAT. Saya merasa sangat Fun sekali. 2 Jam pendakian kami istirahat di sebuah tanah lapang yang terdapat mata air untuk melaksanakan panggilan Sholat Dzuhur. Pada waktu itu jam 12.30 kami sholat berjamaah disana dengan ruang hijau terbuka di Gunung. Setelah selesai kami melanjutkan kembali perjalanan ke Pondok salada yaitu lapangan untuk berkemaha.
Setibanya disana semua orang mulai sibuk mendirikan tenda. Saya sisitu bengong sendiri karena hanya melihat orang-orang yang sedang sibuk. Tapi dalam pikiran saya terbesut sesuatu yang mengatakan, “kamu mau apa pergi ke gunung dengan orang banyak seperti ini, dan kamu hanya diam saja, sementara orang lain sedang sibuk?” Disitu saya langsung bergegas membantu teman-teman untuk mendirikan tenda. Setelah tenda sudah berdiri tegak, ada satu tenda yang belum pernah saya lihat yaitu tenda keong yang berwarna kuning. Orang-orang sangat sibuk dan tidak tahu cara mendirikan tenda keong itu. Saya pun ikut membantunya, butuh waktu lama untuk mendirikan tenda tersebut. Tenda yang aneh….
Setelah semua tenda sudah berdiri semua, kami mulai
mengeluarkan logistik yang sudah dipersiapkan dari rumah. Panitia yang bertanggung
jawab untuk memasak makanan agar semuanya rata bisa dapat makan. Ide yang
bagus…. Panitia pun membuat tenda khusus untuk dapur. Disitu saya ikut membantu
memasak, karena dalam hal memasak saya pernah belajar dari Ibu saya sewaktu
masih ABG. Didalam tenda dapur itu saya bercanda tawa dengan mang Fadli,
membicarakan apa saja yang membuatnya lucu, mang Fadli mempunyai tertawa yang
Khas. Semua masakan pun sudah siap di santap, semua orang mengantri untuk
mendapatkan makan, tidak ada yang rusuh semua tertib dan rapih terlihat indah.
Setelah semua orang selesai makan, tapi saya mang Fadli dan
beberapa orang ada yang belum makan
karena tidak kebagian. Saya pun memasak lagi membuat nasi Gonjleng,
belajar dari pengalaman teman di Pondok Pesantren. Setelah selesai masaknya
saya dan yang lainnya yang belum makan mulai menyantap hidangan buatan saya.
Nikmatnya terasa mantap deh…
Pada waktu itu hujan turun, udara pun menjadi sangat dingin,
saya mulai menggigil. Tapi saya dan yang lainnya membuat kopi agar terasa
hangat nikmat. Karena hujan turun, tidak ada kegiatan apapun untuk dilakukan
sesuati Agenda yang telah direncanakan oleh Panitia. Pada saat itu mang Fadli
sedang sibuk membuat tempat untuk tidur di 2 buah pepohonan, saya pun ikut
membantunya. Disitu saya tiduran bersama mang Fadli di Amuk dan memakai
sleeping bed dipakai berdua seperti orang pacaran saja. Hahaha…. Berbincang
bincang sambil minum segelas kopi panas, tapi panasnya hanya sebentar karena
kalah dari dinginnya udara. Kopi pun
seakan berbicara “tolong selimuti aku, aku tidak kuat menahan dinginnya udara
disini, aku tidak akan bertahan lama dari dinginnya udara Gunung Papandayan”.
Beberpa lama tiduran disitu saya pun tidak tahan dinginnya
udara malam, Panitia pun mendirikan tenda cadangan untuk orang-orang yang belum
kebagian. Setelah tenda berdiri saya dan 4 orang lainnya pun masuk dan saya
mulai memejamkan mata tapi yang lain sedang asik menonton film dari HP nya mang
Fadli. Filmnya yaitu “Penguins of madagaskar”.
Pada Pukul 02.00 pagi saya terbagun karena kegaduhan,
ternyata si Bapak pemandu yaitu kang Encuy membuat sebuah api unggun, yang
lainnya sudah langsung ambil posisi duduk melingkar menghangatkan badan dan
yang lain lagi mencari kayu-kayuan yang bisa dibakar. Saya pun lari mendekati
api unggun itu. Tubuh terasa hangat sekali. Udara ini seakan berteriak “Tolong
matikan api itu, aku sangat kepanasan dengan api unggun itu”. Udara di sekitar
api unggun menjadi hangat, kesempatan ada api unggun teman-teman menjemur
jaket, sepatu dan baju yang basah.
Pada jam 03.00 Disitu saya mulai merasakan ngantuk lagi, dan
langsung masuk tenda untuk tidur kembali dan harus bangun jam 04.00 untuk
mendaki ke puncak Papandayan melihat Sunrise.
Tapi lagi-lagi kelewat schedule, saya dan yang lain bangun
jam 04.30, dan semuanya sudah bangun dan siap-siap untuk ke puncak Papandayan.
Kami berangkat jam 05.00 pagi, kami melewati jalur pendakian yang terjal dan
tidak biasa dilewati para pendaki, tapi saya merasa hepi saja karena inilah
arti sebenarnya mendaki Gunung. Saya bersemangat sekali ingin cepat sampai
puncak dan melihat Sunrise dan pemandangan Kota Garut. Tapi kami tiba di puncak
jam 06.20 pagi cukup jauh dari perkemahan.
Setibanya di puncak saya dan peserta yang lain mengabadikan moment-moment ini, yaitu foto-foto di puncak Gunung Papandayan. Hanya sebentar disitu kami melanjutakan perjalan menurun ke Tegal Alun. Sesampainya disana saya merasakan hati yang begitu senang luar biasa menikmati petualangan pendakian Gunung Papandayan. Pada waktu itu tiba di Tegal Alun jam 07.00 saya dan Mas Mansyur langsung menyiapkan makanan dan Kopi yang telah dibawa oleh mas Masnyur untuk mengisi perut kosong. Udaranya begitu sejuk menenangkan jiwa, semua beban dan penat aktivitas sehari-hari di tempat kerja terasa hilang.
Setibanya di puncak saya dan peserta yang lain mengabadikan moment-moment ini, yaitu foto-foto di puncak Gunung Papandayan. Hanya sebentar disitu kami melanjutakan perjalan menurun ke Tegal Alun. Sesampainya disana saya merasakan hati yang begitu senang luar biasa menikmati petualangan pendakian Gunung Papandayan. Pada waktu itu tiba di Tegal Alun jam 07.00 saya dan Mas Mansyur langsung menyiapkan makanan dan Kopi yang telah dibawa oleh mas Masnyur untuk mengisi perut kosong. Udaranya begitu sejuk menenangkan jiwa, semua beban dan penat aktivitas sehari-hari di tempat kerja terasa hilang.
Pada jam 08.00 kami turun dari Tegal Alun untuk kembali ke
Pondok Salada melewati jalur resmi pendakian. Seampai di perkemahan saya
langsung membantu Mang Fadli dan juru masak lainnya untuk memasak. Ada beberapa
orang yang tidak ikut ke Puncak karena mereka menyiapkan sarapan untuk para
peserta. Semua masakan sudah hampir matang, saya pun mempunyai ide untuk memuat
sambel extra pedas, cokcok sekali.
Dengan kekurangan alat-alat, saya memanfaatkan apa saja yang bisa dijadikan
Leper dan coet.
Setelah semua masakan siap, semua orang di panggil oleh
panitia untuk makan bersama-sama, lagi-lagi saya merelakan orang lain dulu untuk
makan terlebih dulu. Saya memasak nasi Gonjleng lagi untuk beberapa orang yang
belum kebagian makan. Setelah semua selesai makan, masakan saya belum juga
matang, sampai tibanya acara untuk dorpize, disitu panitia memberikan kuis
kepada peserta pendaki GAT, apabila berhasil menjawabnya diberikan hadiah dari
produk Georn. Saya pun tinggalkan masakan saya untuk mengikuti acara itu.
Setelah acara berlangsung sekitar 10 menit, nasi gonjleng yang saya masak sudah
matang dan siap di makan. Saya pun langsung membaca doa menyantapnya dengan
nikmat sekali, disitu ada Bang Billy juga yang makan.
Setelah semuanya selesai, kami langsung merapihkan barang-barang dan sampah-sampah yang bergeletakan tak karuan. Tenda-tenda pun dirapihkan dan digulung untuk dibawah pulang kembali. Setelah beres, semuanya berdoa untuk kepulangan. Pada waktu akan pulang itu, disiitu sedang hujan, dan semuanya telah memakan Jaket hujan. Jam 13.00 Kami pun berangkat turun untuk pulang, saya baru saja melangkahkan kaki, Bnag Billy berteriak pada semua peserta yang sudah duluan jalan “Wooy sampahnya jangan ditinggalin”. Saya yang jalan di barisan terakhir peserta yang lain pun langung lari putar arah ke tempat perkemahan, saya pun membawa sampahnya, sampah yang begitu berat tak terasa lelahnya sama sekali di badan saya. Saya hanya merasakan Fun saja pada waktu itu. Sungguh Fun. GAT benar-benar hebat. Sesuai dengan slogannya. “Get Fun with GAT”.
Pada jam 16.30 kami tiba di rumah makan untuk mengisi perut, dan Jam 17.00 kami berangkat pulang ke Tangerang. Tiba di Tangerang tepatnya di Bitung jam 00.00, saya dan beberapa orang yang tinggal di Bitung pun turun. Setibanya di kontrakan saya langsung cuci muka, gosok gigi dan bergegas tidur. Disitu saya berpikir mungkin besok saya tidak akan masuk kerja karena pasti badan saya pegal-pegal, tapi begitu bangun pada waktu pagi, saya begitu segar tidak merasakan pegal-pegal. Itu Sungguh hal yang luar biasa bagi saya dan saya pun kembali melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa dengan hati Fun.
Setelah semuanya selesai, kami langsung merapihkan barang-barang dan sampah-sampah yang bergeletakan tak karuan. Tenda-tenda pun dirapihkan dan digulung untuk dibawah pulang kembali. Setelah beres, semuanya berdoa untuk kepulangan. Pada waktu akan pulang itu, disiitu sedang hujan, dan semuanya telah memakan Jaket hujan. Jam 13.00 Kami pun berangkat turun untuk pulang, saya baru saja melangkahkan kaki, Bnag Billy berteriak pada semua peserta yang sudah duluan jalan “Wooy sampahnya jangan ditinggalin”. Saya yang jalan di barisan terakhir peserta yang lain pun langung lari putar arah ke tempat perkemahan, saya pun membawa sampahnya, sampah yang begitu berat tak terasa lelahnya sama sekali di badan saya. Saya hanya merasakan Fun saja pada waktu itu. Sungguh Fun. GAT benar-benar hebat. Sesuai dengan slogannya. “Get Fun with GAT”.
Pada jam 16.30 kami tiba di rumah makan untuk mengisi perut, dan Jam 17.00 kami berangkat pulang ke Tangerang. Tiba di Tangerang tepatnya di Bitung jam 00.00, saya dan beberapa orang yang tinggal di Bitung pun turun. Setibanya di kontrakan saya langsung cuci muka, gosok gigi dan bergegas tidur. Disitu saya berpikir mungkin besok saya tidak akan masuk kerja karena pasti badan saya pegal-pegal, tapi begitu bangun pada waktu pagi, saya begitu segar tidak merasakan pegal-pegal. Itu Sungguh hal yang luar biasa bagi saya dan saya pun kembali melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa dengan hati Fun.
Pendakian Gunung Papandayan 21-22 Maret 2015 adalah hal yang
luar biasa bagi saya, karena saya merasa Fun, Fun, dan Fun….. Terima kasih GAT
(Georn Adventure Team)), Get Fun with GAT.
Ini ceritaku, mana cerita mu????




DSC_0199.jpg)
No comments:
Post a Comment